Baju Baru Buat Ihsan

 Tokopedia.com

 Laras menatap dengan sedih guyuran air hujan di luar rumahnya. Ia sedih karena hari ini ia tidak bisa bekerja sebagai buruh tanam harian. Hujan semakin menderas sederas derai air matanya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengungkapkan rasa yang membuncah di dadanya. Ia teramat bingung bagaimana ia bisa mengais rezeki hari ini. Uang dalam celengan pun sudah habis.

“Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini. Bila langkah hidup yang aku ambil ini salah, berikan petunjuk-Mu  ya,  Allah,” Laras membatin.

Musim hujan bagi sebagian orang mendatangkan berkah, namun bagi sebagian orang justru mendatangkan sengsara. Bagi penduduk di daerah Lembang , yang pada umumnya mengandalkan penghidupan dari bertani, hujan yang terus-terusan mengguyur tanaman sayur mereka menyebabkan gagal panen.Tanaman bawang, tomat, cabe sebagian besar membusuk. Begitu juga tanaman kol dan kentang.

Majikan Laras bukanlah petani besar, sehingga ia hanya menggantungkan dari cara bercocok tanam tradisional yang sangat dipengaruhi oleh musim. Musim hujan tahun ini ia hanya menanami sedikit bagian dari  tanahnya, dari pada  merugi karena modal yang tidak sebanding dengan hasil panen yang ia dapatkan.

Laras sudah punya hutang kepada majikannya, untuk sekedar membeli kebutuhan pokok selama paceklik itu. Biasanya ia akan membayarnya dengan memotong upah yang akan ia terima. Hari ini ia bingung karena benar-benar sudah tidak punya uang lagi. Yang tersisa hanyalah sedikit beras.

Laras menyuapi anak semata wayangnya, Ihsan.  Ia membuat bubur yang hanya ditaburi bawang goreng dan sedikit kecap.”Maafkan ibu, Nak. Hanya ini makanan kita hari ini,” kata Laras dalam hatinya. Untungnya Ihsan selalu sehat walaupun badannya kurus. Ia selalu makan dengan lahap apa pun yang disuapkan ibunya.

 “Mau nambah, Bu. Ihsan mau makan sendiri, yah,” pinta Ihsan. “ Boleh, Nak. Masih ada koq buburnya.” Laras menambahkan bubur ke dalam mangkok dan membiarkan Ihsan makan sendiri. Ia sangat terharu melihat anaknya makan dengan lahap walaupun makanan yang ia makan begitu sederhana.

“Bu, Ihsan ikut ya ke kebun. Ihsan mau bantuin Ibu buangin rumput-rumputnya,”ujar Ihsan ketika ia sudah selesai makan. “ Hari ini ibu gak ke kebun. Gak ada pekerjaan, Nak. Lagian, lihat, hujan terus-terusan turun,” jawab Laras. Ihsan tidak berbicara lagi. Ada sorot kesedihan di matanya. Ia seperti sudah maklum akan kesusahan hidup mereka. Anak sekecil itu memiliki pemikiran lebih dibanding usianya yang baru lima tahun. Bisa jadi karena ia menyaksikan  kerasnya  tempaan hidup yang dialami ibunya.

“Ibu jangan sedih, ya. Besok pasti hujan berhenti dan ibu bisa bekerja lagi,”ujarnya berusaha menghibur ibunya. Laras merasa terharu. Baginya Ihsan adalah matahari hidupnya yang selalu menghangati hatinya ketika kebekuan melanda. “Tidak sedih koq, Nak. Karena hari ini kita masih punya rezeki, kita malah harus bersyukur, ya Nak,” Laras berusaha menghalau duka yang ada di hatinya demi buah hatinya. Ia tak ingin Ihsan melihatnya bersedih.

Untunglah awal bulan  April itu, hujan tidak seperti tiga bulan sebelumnya. Ada harapan bagi para petani dan buruh tani untuk mulai bercocok tanam.  Begitupun Laras. Dengan bersemangat ia bekerja menanam bibit wortel dengan memindahkannya  dari persemaian. Ia jalani dengan suka-cita, karena besar harapannya untuk mendapatkan rupiah demi  menyambung hidup bersama anaknya. Ia bersyukur menerima upah 25 ribu rupiah hari itu. Dengan uang itu ia bisa membeli satu liter beras dan sepotong tempe untuk lauknya. Sisanya ia simpan ke dalam celengan walaupun hanya beberapa ribu rupiah.

Masih ada tiga hari untuk menggarap kebun. Setelahnya biasanya menunggu lama untuk menyiangi rumput-rumput  yang ia kerjakan selama dua hari. Selama menunggu ia pun mencari ke petani lain yang membutuhkan tenaga buruhnya. Bila cuaca sedang bagus biasanya ia bisa bekerja empat hari dalam seminggu. Ia  cukup-cukupkan untuk menghidupi anaknya dengan uang 100 ribu per minggu.

”Alhamdulillah , semoga rezeki ini cukup untuk bekal satu minggu ya,  Allah.” Begitulah Laras selalu mensyukuri dan mengharap berkah dari rezeki yang ia peroleh. Yah, hidup yang sangat sederhana, hanya memenuhi kebutuhan pokok.

Tibalah bulan puasa, baginya ada keyakinan bila selalu ada berkah di bulan puasa. Sering datang rezeki yang tak disangka-sangka dari para tuan tanah. Ketika menjelang magrib tidak jarang ada yang mengirim makanan untuk berbuka. Katanya dari orang yang berniat membayar fidyah karena sudah tidak mampu berpuasa. Tentu saja itu adalah rezeki yang sangat ia syukuri. Rezeki seperti itu tidak boleh ia tolak karena ia yakin niat orang yang memberinya ikhlas demi ibadah.

Lebaran tinggal satu minggu lagi. Bila orang lain sibuk dengan persiapan lebaran, baik makanan maupun pakaiannya, tidak demikian dengan Laras. Lebaran atau bukan tidak ada bedanya. Ia jalani seperti hari-hari biasanya. Namun tidak jarang ada tetangga yang berlebih selalu menawarkan pekerjaan untuk membantunya membuat kue-kue. Hal itu ia sambut dengan senang hati. Walaupun upahnya bukan berupa uang melainkan ia  menerima kue-kue untuk berlebaran nanti. Selalu ia syukuri.

“Bu, Adit ama Rihan udah punya baju baru buat lebaran katanya. Emang lebaran harus pake baju baru yah, Bu?" tanya Ihsan dengan polosnya, pada suatu sore ketika ia pulang main dengan anak-anak tetangganya. Sesaat Laras terpaku, bingung harus jawab apa. 

“Tidak juga, Nak. Yang penting bajunya bersih ketika kita shalat sunat saat lebaran nanti,” jawab Laras sambil menahan gejolak dalam hatinya. Ia berusaha tidak memperlihatkankan kesedihannya.

“Ya Allah, berikan petunjuk-Mu. Berilah rezeki baginya, anakku, agar ia bisa memakai baju baru saat lebaran nanti,” Laras larut dalam doa tahajudnya.

Ingatannya pun menerawang ke masa silam. Lima tahun lalu. Ia hidup berkecukupan di kota, karena menikah dengan suami yang cukup mapan. Namun ketika hamil tua ia pergi dari rumah itu membawa hati yang hancur karena keadaan. Suaminya lebih memerhatikan istri mudanya. Semua terjadi atas hasutan-hasutan madunya yang licik. Sehingga dengan tekad yang kuat ia pergi dari rumah dari pada harga dirinya diinjak-injak madu dan mertuanya.

“Ah, tidak perlu aku sesali keadaan ini. Setidaknya aku bisa mengobati hatiku yang hancur. Walupun harus hidup serba kekurangan, tapi pikiranku tenang.”  Laras hidup dengan tenang karena tidak  ada lagi  yang menghasut, tidak ada yang menggiringnya ke arah yang membahayakan hidupnya dan anaknya.

Namun, baru kali ini, ia merasakan beban yang ia tanggung semakin berat seiring tumbuh kembang anaknya. Celotehan Ihsan tadi sore tentang baju lebaran, membangunkan kesadarannya, bahwa hidup tidak sesederhana yang ia bayangkan. Tidak cukup hanya untuk makan. Tetapi ada kebutuhan lain yang harus ia penuhi juga.

“Ya Allah, berikanlah jalan. Hanya kepada-Mu aku memohon,” doa Laras mengungkapkan rasa gundah jiwanya. Semakin sedih hatinya melihat wajah anaknya ketika terlelap tidur.

 “Maafkan Ibu, Nak. Ibu harusnya memenuhi semua kebutuhanmu.” Laras membatin.

Lalu ia membuka lemari usang, ia mencari sesuatu. Tangannya terus membuka lipatan-lipatan pakaian. Pandangannya terhenti ketika ia melihat lipatan kain batik. Ada beberapa kain batik yang masih bagus. Ia ingat lima tahun lalu ia membeli banyak kain batik untuk persiapan persalinan. Lalu ia menyimpan beberapa kain dengan diberi kamper. Ia pun mengambil dua lipatan kain batik tersebut. “Alhamdulillah, kain ini bisa aku jahit untuk membuat baju kemeja untuk Ihsan. Ini sangat cocok untuk anak seusianya. Bukankah baju batik sekarang sudah lumrah dipakai oleh orang-orang untuk berlebaran?” gumamnya sambil tersenyum lega.

Keesokan paginya ia membeli benang dan jarum jahit. Ia akan menjahit baju untuk Ihsan dengan tangannya. Dari pada dipakai upah menjahit lebih baik untuk membeli lauk alakadarnya buat lebaran nanti, pikirnya.

Ia ambil baju kemeja Ihsan yang masih muat dipakai. Lalu ia menjiplaknya untuk membuat pola di atas kain batik itu. Dulu Laras sering membantu ibunya menjahit dengan tangan juga karena dulu di kampungnya tidak ada tukang jahit. Laras sudah belajar bagaimana ibunya menjahit seragamnya. Ia masih ingat betul bagaimana membuat pola-polanya. “Alhamdulillah, terima kasih petunjuk-Mu, ya Allah.” Laras tersenyum lega. Laras melakukan nya ketika Ihsan sedang bermain dengan anak tetangganya. Ia tak ingin Ihsan tahu bahwa baju itu dari kain yang ada di lemari.

“Bu, katanya lebaran dua hari lagi yah? Baju buat shalatnya sudah dicuci ,Bu?”celoteh Ihsan. “Sudah dong. Tapi kenapa kamu tanya itu,Nak?” Laras balik bertanya.

“Rihan tadi nunjukin baju barunya yang sedang dijemur, habis dicuci sama Budek,” jawab Ihsan. Budek adalah tetangganya, ibunya Rihan.

“Iya, Ihsan juga nanti pakai baju baru koq,” kata Laras.

 “Wah, betul ,Bu? Mana bajunya, Isan mau lihat.” Ihsan terlihat begitu girang mendengar kata-kata ibunya.

 “Nih, ada dua baju baru buat Ihsan berlebaran.” Laras menunjukkan dua buah kemeja yang ia jahit. 

“ Wah, Ihsan senang sekali. Baju-bajunya bagus sekali, Bu. Tapi kenapa Ibu gak ngajak Ihsan beli baju-baju ini?”celoteh anak kecil itu. 

Laras sambil tersenyum menjawab, ”Kan ibu gak pergi ke mana-mana beli baju itu, Nak. Karena pedaganngnya yang ke sini pas Ihsan main sama teman-temanmu.” Laras menjelaskan sambil berbohong sedikit.

“Oh, gitu, Bu? Ah, Ihsan senang sekali bisa pakai baju baru lebaran nanti, makasih ya Bu,” kata Ihsan sambil memeluk ibunya.

“Iya sayang, sama-sama,” kata Laras penuh haru. 

Dua hari kemudian mereka pun menikmati hari lebaran dengan bahagia.






Komentar

  1. Saya pikir tadi endingnya, begitu si anak pakai baju baru jahitan ibu, lalu dia bilang, "Lho, Bu, kok sempit bajunya?"
    Ternyata, endingnya tidak begitu, hehe...

    Yah, dari cerita ini membuat kita bersyukur, bahwa masih banyak orang yang mungkin kurang mendapatkan harta. Sementara kita sudah banyak diberikan kecukupan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Alhamdulillah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah Mas Rizky. Kasihan atuh sama si Ihsan kalo bajunya kekecilan hehehe...

      Hapus
  2. Woooowwww...Ambu mah juaranya bikin cerita...👏👏👏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah jd malu saya. S3lagi ada ide aja, pak Iroen..

      Hapus
  3. Hoorreeee baju baru,,,terima kasih mami,,,begitulah celoteh anakku ketika ada baju baru,,,

    BalasHapus
  4. Perjuangan seorang ibu demi membahagiakan buah hatinya. Ambu cerpennya keren.

    BalasHapus
  5. Sepertinya ini lanjutan dari cerita sebelumnya yaaa...
    Apakah memang nama tokohnya bernama sama "Laras"

    Entahlah...
    Ceritanya menarik, apalagi saat Laras berbohong sedikit, saya suka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mas Indra, ini sambungan dari ceroen sebelumnya hehe... Bisa nyambung yah? Ya dipaksain nyambung aja hahahaha..

      Hapus
  6. Baca ceritanya membuat haru. Membahagiakan anak dalam keterbatasan. Ibu selalu punya cara sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Bu, wanita memiliki kekuatan yg tak terduga..

      Hapus
  7. Mantaf Ambu,tulisan yg sangat bagus

    BalasHapus
  8. selalu memukai cerita nya ambu... maa syaa Allah

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah berakhir bahagia Ambu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bu Nung, selalu ada cara bagi seorang ibu..

      Hapus
  10. Cerita yang sangat inspiratif, Ambu. Saya harus belajar banyak menulis cerita inspiratif seperti ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah Mas Mo mah udah master, justru Ambu belajar dr Mas Mo...

      Hapus
  11. Wah cerpennya boleh langsung tamat sekali tulis. Hebat Ambu....

    BalasHapus
  12. Kereen Ambu..sy sudah lama TDK menulis..entaahlh..Krn kesibukan dan jg mood..😇

    BalasHapus
  13. Alhamdulillah, selalu ada jalan keluar untuk setiap masalah. Selamat lebaran dengan baju baru Ihsan.
    Cerita yg bagus Ambu, saya suka.👍

    BalasHapus
  14. Waow ... cerpen yang menarik. Ibu yang penyabar dan anak yang berbakti tidak banyak tuntutan.

    BalasHapus
  15. Makasih Pak D. Saya mau kripik pedasnya..

    BalasHapus
  16. Baju baru selalu membuat hati bahagia apalagi untuk anak-anak

    BalasHapus
  17. Baju baru alhamdulillah. Tuk dipakai di hari raya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENAHAN GODAAN

Kata, Rasa, dan Rupa Kehidupan dalam Akrostik

DARIK NASIHAT