Bagai Gelas yang Retak
Oek..! oek..! Pagi itu Laras beberapa kali muntah. Rasa mual tak berkesudahan sepanjang hari itu. Badannya pun mulai demam. Semakin malam, demamnya semakin tinggi. Badannya lemas tiada daya, kepalanya berdenyut-denyut, sakit dan pusing. “Tadi aku ajak ke dokter gak mau. Besok pagi kita ke dokter yah,” kata Dewo suaminya, tangannya tak henti memijat punggung, tangan dan kaki Laras. Ia pun tak bisa tidur menunggui istrinya yang sakit. *** “Sebaiknya, ibu cek lab yah, ini suratnya. Silahkan bawa ke laboratorium di belakang sana yah. Besok Ibu kembali lagi ke sini. Sementara saya kasih obat untuk diminum sampai besok pagi yah,” kata dokter. Lalu Dewo mengantar Laras untuk cek lab. “Bu Laras, kalau menunggu hasilnya lama, tapi terserah Ibu, mau ditunggu atau besok pagi ke sini lagi,” kata petugas laboratorium. Laras merasa tidak sanggup lama-lama menunggu. Badanya tidak karuan rasa. Berada di luar ruangan saja rasanya silau dari matahari, malah menamb...
Rida Allah tergantung rida Ibu.
BalasHapusBetul Bu..semoga kita sll mendapat rido-Nya krn ibu kita
HapusPuisi yang bagus, untuk mengenang jasa seorang ibu, ibu yang karenanya kita menjadi "seseorang"
BalasHapusBetul dukungan besar ibulah kita menjadi yg sekarang ini.
HapusDiksinya bagus.....
BalasHapusMakasih Bu..
HapusBetul Ambu, beliau tak lekang oleh waktu. Puisi yang indah di canva yang cantik.
BalasHapusMakasih apresiasinya Bu..
Hapus